Saturday, 07 November 2009
Halaman Utama
"Rasulullah SAW: Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembang biakkan olehNya seperti gunung, maka bersedekahlah." (Bukhori dan Muslim)
 
KAMMI UNY dan Rekayasa Masa Depan Bangsa
Penulis: Umi Puji Astuti   
Sunday, 13 July 2008

KAMMI UNY dan Rekayasa Masa Depan Bangsa

 

Ketika membahas KAMMI dan rekayasa masa depan bangsa ada tiga poin yang perlu diungkapkan. Pertama, bagaimana KAMMI memandang bangsa yang ideal. Kedua, bagaimana kondisi bangsa saat ini, dan yang ketiga bagaimana langkah KAMMI dalam mencapai bangsa yang ideal. Jika KAMMI menjadikan Islam sebagai inspirasi dan kerangka berpikir dalam memandang sesuatu maka KAMMI akan menggunakan Islam dalam memandang bangsa yang ideal.

Bangsa pada hakekatnya adalah sekumpulan manusia yang memiliki tujuan, perasaan, dan cara pandang yang sama terhadap sesuatu. Bangsa juga membutuhkan adanya wilayah dan aturan-aturan untuk mewujudkan tujuan bangsa itu sendiri. Adanya bangsa, wilayah, dan aturan-aturan ini akan membentuk negara. Pada hakekatnya tujuan negara adalah untuk menjaga agama, melayani masyarakat/bangsanya, menjaga tegaknya syariah, dan melindungi bangsanya dari serangan musuh dalam bentuk apapun. Dengan demikian, bangsa yang ideal adalah bangsa yang terjaga agamanya, bangsa yang diurusi dan dilayani oleh negaranya, bangsa yang bebas untuk menjalankan syariat, dan terbebas dari serangan musuh dalam bentuk apapun.

 

Krisis Kepemimpinan

Kondisi bangsa Indonesia masih jauh dari ukuran bangsa yang ideal. Kelahiran KAMMI merupakan salah satu keniscayaan di tahun 1998. Di saat itu krisis multidimensi menjangkiti negeri ini dan berujung pada krisis kepemimpinan. Jikalau semasa orba kebebasan beragama begitu minim maka setelah reformasi agama memperoleh angin segar. Namun, di sisi lain kondisi ini juga membuka budaya asing seluas-luasnya. Bermaksud memberikan kebebasan tetapi malah membuka kran penindasan terhadap bangsa sendiri. Hal ini disebabkan krisis kepemimpinan di mana pemimpin bangsa ini pada dasarnya tidaklah memiliki karakter kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa sendiri. Pemimpin adalah orang yang seharusnya paling memahami karakter dan kekhasan bangsa yang dipimpinnya. Dia akan berpikir hanya untuk kesejahteraan bangsa yang dipimpinnya. Namun, yang kita alami justru jauh dari harapan. Tepat apabila KAMMI memilih visi kepemimpinan nasional.

Namun, pertanyaannya peran kepemimpinan yang seperti apa yang akan KAMMI jalankan? Kemampuan KAMMI untuk menerjemahkan peran-perannya saat inilah yang yang akan menjadi kunci bagi keberlangsungan gerakan di masa mendatang. Jikalau semasa rezim Orba KAMMI dituntut untuk menjadi gerakan oposisi dan selalu berbicara lawan, maka pada masa demokrasi seperti ini KAMMI telah berhasil mendidik bangsa ini hingga rakyat menyuarakan aspirasinya sendiri. Apalagi ketika sistem demokrasi di mana rakyat memilih pemimpinnya sendiri. Lantas ketika kita hanya berkoar-koar rakyat yang mana yang kita perjuangkan? Untuk itu, KAMMI saat ini dituntut untuk lebih konkret berkontribusi bagi perbaikan umat.

Keberadaan KAMMI Pusat, Daerah, dan Komisariat tidak lain untuk menciptakan sistem pendukung tercapainya visi kepemimpinan umat tersebut. Pembagian ranah garap yang jelas antara KAMMI Pusat, Daerah hingga Komisariat perlu menjadi perhatian menuju sinergisitas gerak. Dengan sinergisnya peran masing-masing ranah garap dari kaderisasi hingga kontribusi maka akan mengefisiensi dan mengefektifkan gerak. Dengan efisisensi dan efektifitas gerak inilah yang akan mempercepat tercapainya tujuan utama.

Pentingnya sinergisitas ini sebenarnya telah disadari sejak awal. Hanya saja, dalam aplikasinya masih sering terjadi pengambilan peran yang kurang tepat.  Untuk masalah nasional, KAMMI Pusatlah yang akan banyak mengambil peran, walaupun memerlukan dukungan KAMDA hingga Komsat. Apalagi untuk perihal massa, komsatlah yang menjadi basis massa. KAMMI pun menyadari hal itu sehingga pembentukan basis ijtima’iyah oleh Komisariat memerlukan perhatian cukup besar.

Untuk urusan Daerah, KAMMI daerahlah yang akan mengkoordinir komsat-komsat sesuai dengan ranah garapnya. KAMMI DIY memiliki komisariat yang paling banyak  dan tersebar di hampir seluruh kabupaten di Yogyakarta. Menyadari pentingnya sinergisitas antarkomisariat maka KAMMI DIY perlu membuat rumpun-rumpun wilayah. KAMMI UNY yang terletak di 3 kabupaten: Kulonprogo, Bantul, dan Sleman sekarang dituntut untuk kontributif tidak hanya di kampus UNY tetapi juga kepada masyarakat yang lebih luas. Dan untuk periode ini, KAMMI UNY menyatakan diri untuk mengambil fokus isu di wilayah Sleman.

 

Isu Anggaran dan Kurikulum Pendidikan di Sleman

Dengan ikon UNY sebagai kampus pendidikan inilah yang menjadikan KAMMI UNY tepat ketika mengambil ranah garap kesejahteraan rakyat yang di dalamnya terkandung masalah pendidikan.

Dengan basic pendidikan yang kemudian difokuskan pada wilayah garap pendidikan inilah diharapkan kader KAMMI UNY akan mampu menjadi pemimpin yang kontributif bagi umat. Ia akan menjadi pemimpin yang benar-benar memahami ranah garapnya dan ingin mencapai kemaslahatan umatnya.

Jikalau selama ini KAMMI UNY masih fokus dengan urusan kampus, maka saat ini KAMMI UNY mulai memfokuskan diri pada isu-isu Sleman khususnya bidang pendidikan. Namun, KAMMI tidak melupakan perannya di kampus. Tugu sebagai LSO KAMMI akan menjalankan peran kekampusannya mendukung kontribusi nyata KAMMI kepada masyarakat.

Kontribusi riil KAMMI di wilayah kesejahteraan rakyat didukung oleh semua Departemen, khususnya Departemen Kebijakan Publik yang fokus pada pengawalan pelaksanaan pendidikan di Sleman dan Departemen Sosial Masyarakat yang fokus pada pelayanan masyarakat.

Pendidikan merupakan isu yang sangat luas. Untuk itu, pada periode kepengurusan kali ini KAMMI UNY fokus di isu anggaran dan kurikulum pendidikan Sleman. Pengawalan pembuatan Perda Pendidikan Sleman merupakan kerja awal yang KAMMI garap serius. Hal ini mengingat Perda merupakan aturan yang akan menjadi pegangan dalam pelaksanaan pendidikan di Sleman.  Tidak berhenti sampai di sini, maka pengawalan pelaksanaan pendidikan di Sleman akan menjadi tugas Departemen Kebijakan Publik KAMMI UNY.

Perihal anggaran, KAMMI akan memperjuangkan anggaran pendidikan yang memang menjadi hak rakyat. Perihal kurikulum, KAMMI UNY akan menyuarakan pentingnya pendidikan yang sadar akan potensi daerah alias pendidikan yang berkearifan lokal.

            Tak lupa sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat, KAMMI UNY melalui Departemen Sosial Masyarakat menggandeng sebuah desa sebagai prototipe peran dan kontribusi nyata KAMMI terhadap bangsa ini. Pendampingan dan pemberdayaan desa berusaha KAMMI lakukan demi kesejahteraan serta terciptanya masyarakat yang lebih baik.

Dalam menjalankan agenda-agenda KAMMI di wilayah pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, kepengurusan KAMMI UNY 2008 digawangi seorang Ketua yang kompeten, jajaran Sekretaris dan Bendahara yang cermat serta Departemen-departemen yang menjalankan fungsi sebaik-baiknya. Sebagai fokus gerakan adalah Departemen Kebijakan Publik dan Departemen Sosial Masyarakat, namun peran departemen yang lain tidaklah kecil. Kaderisasi yang bertugas menyiapkan basis massa sebagai bahan bakar gerakan KAMMI, Humas yang menjadi jembatan komunikasi dengan mitra dan jaringan, serta DPW yang mengkosolidasi kader-kader di wilayah kampus 2 dan kampus 3 UNY.

Peran KAMMI UNY di ranah kampus yang kemudian diperluas ke wilayah dan ketika semua komisariat bergabung untuk berkontribusi untuk daerah masing-masing dengan dikoordinir KAMMI Daerah sampai Pusat maka akan mampu mencapai visi kemaslahatan masyarakat Indonesia bahkan dunia internasional. Akhirnya, kami berharap Allah meridhoi usaha kami dan meringankan langkah-langkah kami. Jaya Indonesiaku!

 
KAMMI: Kawah Candradimuka
Penulis: Triyanto "Mekel" Puspito   
Thursday, 10 July 2008
 
 
       Gerakan mahasiswa mulai bangkit dari tidurnya pada tahun 1998. Pada tahun inilah gerakan mahasiswa mencapai titik klimaks dengan berhasilnya menumbangkan rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun. KAMMI turut memberikan andil dalam proses reformasi tersebut, KAMMI yang “baru lahir“ telah menorehkan prestasi yang cukup membanggakan. Namun saat ini gerakan reformasi seakan mati suri. Tidak ada perkembangan yang berarti pasca reformasi. Para koruptor lama diganti dengan munculnya para koruptor baru, secara sederhana cuma berganti orang tetapi perilakunya sama saja. Kalau keadaannya seperti ini, untuk apa para ribuan mahasiswa dari berbagai universitas turun ke jalan dan rela berpanas – panasan? Menjadi kesimpulan bagi kita semua bahwa reformasi masih belum selesai.
      Pada masa reformasi saat ini, ada satu hal yang patut kita perhatikan bersama, yaitu pada masa ini belum muncul seorang pemimpin nasional. Gerakan KAMMI yang termasuk gerakan dakwah ini harus peka terhadap kondisi tersebut. Oleh karena itulah orientasi gerakan ini haruslah untuk menyiapkan pemimpin agar dapat mengisi kekosongan tersebut. Kita lihat para pemimpin nasional saat ini belum bisa menyelesaikan persoalan bangsa. Hal ini bukan karena mereka tidak memenuhi janji – janjinya, tetapi karena mereka tidak memiliki kapasitas kepemimpinan yang diperlukan. Hal tersebut merupakan celah bagi gerakan dakwah untuk mengisi kekosongan kepemimpinan. Tidak terlalu berlebihan apabila KAMMI juga turut berpartisipasi dengan memberikan kontribusi kepemimpinan. Kepemimpinan adalah roh kehidupan yang dapat membuat ideologi, agama, nilai pikiran, dan sistem bekerja efektif mengorganisasi kehidupan bangsa kita.
        Tentu saja, dalam menyiapkan seorang pemimpin tidak cukup hanya satu malam saja. Menyiapkan seorang pemimpin tidaklah semudah dalam cerita Gatot Kaca yang cukup dilempar ke kawah Candradimuka. Mencetak seorang pemimpin membutuhkan proses yang komprehensif dan memakan waktu yang lama. Oleh karena itulah, gerakan KAMMI tidak cukup hanya mengurusi soal demonstrasi saja, tetapi ada hal yang perlu dipersiapkan dalam rencana jangka panjang, yaitu mencetak para pemimpin. KAMMI harus berperan layaknya kawah Candradimuka yang akan “menggodok“ para calon pemimpin masa depan.
Kewajiban sebagai sebuah gerakan mahasiswa tidak cukup hanya sebatas menyiapkan para pemimpin saja. Apabila hanya berorientasi pada satu tujuan tersebut maka KAMMI hanyalah sebuah gerakan yang seakan – akan “haus“ akan kekuasaan. KAMMI harus bergerak lebih progresif.
        Kita semua tahu bahwa pikiran kita adalah awal dari perbuatan kita. Jadi kita tidak akan pernah berbuat apa yang tidak pernah kita pikirkan, begitu juga sebaliknya. Gerakan ini telah lama berkutat pada area pemikiran – pemikiran semata, tanpa bergerak lebih “aktif“ untuk merealisasikan pemikirannya. Sebagai contoh sederhana, kita semua telah sepakat bahwa perang pemikiran dari para “musuh – musuh dakwah“ secara efektif bergerak melalui media. KAMMI tidak cukup hanya mencela dan mendiskusikan efek negatif dari media, tetapi harus melakukan perlawanan dengan mencetak para ahli – ahli media pula. Anis Matta mengatakan bahwa, kita masih bicara ideologi dan belum bicara sumber daya. Kita masih bicara sistem pemerintahan Islam dan belum bicara kompetensi kepemimpinan umat. Kita masih bicara slogan “Islam adalah solusi“ dan belum bicara aksi penyelesaian persoalan bangsa. Kita masih bicara kegagalan musuh dan belum bicara kesuksesan kita. Kita masih bicara ghazwul fikri dan belum bicara strategi kebudayaan. Kita masih bicara konspirasi asing dan belum bicara sistem pertahanan dakwah. Kita masih bicara apa yang kita inginkan dan belum bicara sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya.
       Gerakan KAMMI merupakan gerakan para mahasiswa. Maka, sudah selayaknya apabila gerakan ini juga mencetak para mahasiswa yang kafaah di bidang ilmu yang ditekuninya. Hal ini harus dilakukan agar kedepannya terdapat kader – kader yang ahli dalam bidang masing – masing. Dengan adanya hal tersebut maka apabila kita belum mampu memunculkan seorang pemimpin maka kita akan mampu memunculkan tenaga – tenaga ahli. Akan cukup membanggakan juga apabila tiap tahun yang memberikan sambutan sebagai mahasiswa dengan IP cumlaude adalah kader KAMMI, misalnya saja seperti itu. Oleh karena itu, selain “merebut“ kekuasaan dengan mencetak para pemimpin, akan lebih baik apabila ditambah dengan mencetak sumber daya yang dibutuhkan. Mencetak sumber daya harus lebih diutamakan oleh KAMMI dan tentu saja agenda ini memerlukan waktu yang lama sehingga tidak bisa diabaikan.
 
 
Ditulis oleh Triyanto “Mekel“ Puspito N
                                                       Mahasiswa Pend. Geografi 2006 FISE UNY
 
Memaknai Sistem Liqo'
Penulis: Vivit Nur Arista Putra   
Sunday, 27 April 2008
 

           Dalam menempa ilmu di kampus ini jikalau kita sadari, setiap hari selama lima hari kerja ihwal yang kita tempa, kita asah, dan kita kembangkan hanyalah aspek kognitif (otak) saja. Segi intelektual itu kita olah dalam proses belajar mengajar dalam perkuliahan. Perlu kita ketahui bersama keberhasilan hidup kita ditentukan oleh 80% aspek emosional dan 20% intelektual. Sedangkan spiritual harus kita endapkan dalam pikiran dan kita lesakkan dalam lubuk hati, agat tidak terjadi penyimpangan, penyalahgunaan ilmu, dan ketimpangan perilaku.  

           Pada sisi emosi mungkin bisa kita uji dan ukur dengan aktif berorganisasi di kampus. Di tempat itulah kita akan bersua dengan makhluk-makhluk berwatak dan karakteristik yang berbeda. Pada titik inilah kita dituntut mengenal pribadi teman kita. Agar mampu menjaga gaya tutur dan perilaku kita saat srawung dengan mereka. Dari sinilah kesalahpahaman dalam berucap dan berbuat dapat diminimalisasi. Karena omongan dan tindakan kita tidak menyayat hati. Hal itu juga berlaku dalam lingkungan organisasi, adaptif adalah sikap yang tepat dalam ruang organisasi yang diisi beraneka ciri khas setiap orang yang mengurusnya.         

          Khusus spiritual dapat kita up grade melalui tutorial, aktif ikut kajian keislaman di masjid sekitar kampus, maupun memahami buku bacaan. Selain itu ada cara lain yang dirasa cukup mengena pada sasarannya, yaitu sistem liqo’ dengan menjadikan kita sebagai subjeknya. Liqo’ secara terminologi (istilah) berarti perjumpaan, pertemuan. Akhi-akhi dan ukhti-ukhti mungkin lebih akrab dengan sebutan diskusi melingkar. Sebab dalam menjalaninya mutarobbi (didikan) sering membentuk lingkaran menghadap murobi (pendidik).

          Liqo’ termasuk dakwah khasoh (khusus) dalam artian dilihat dari materi yang disampaikan pada mutarobbi. Forum kecil ini dipandang sangat efektif untuk proses tarbiyah (pendidikan) khususnya ilmu agama ketimbang dilakukan dengan dakwah ammah (umum) seperti pengajian. Sebab, selain dapat mengetahui tingkat kepahaman (fahm) peserta didik, sang guru (murobi) juga leluasa melakukan sistem kontrol dan penjagaan guna mengetahui tingkah polah mutarobbi dan amalan-amalan baik wajib maupun sunah yang dikerjakannya. Pengontrolan ini dapat terjadi lantaran dalam liqo’ ada manfaat lain yang bisa kita petik yakni mengeratkan jalinan ukhuwah (persaudaraan) sesama. Kita dapat menganggap murobi sebagai kakak kita, teman berbincang kita, yang bisa kita dengar pendapatnya.

           Nah, kenapa liqo’ itu ada dan begitu dibutuhkan oleh kita. Karena, fase-fase kita adalah tahapan yang sedang mencari jati diri, tahapan ini dirasa sangat rentan akan pengaruh-pengaruh dari luar seperti lingkungan kos, teman bermain, teror media baik cetak maupun elektronik yang makin menggila yang setiap saat bisa mengempur diri kita. Di sinilah sistem liqo’ akan berperan sebagai tameng yang membentengi kita. Akan tetapi, yang harus diingat ialah standar amalan yang disuguhkan murobi janganlah dijadikan tuntutan kita dalam beramal, tetapi yakinlah bahwa motivasi beramal dan beribadah hanya untuk Allah semata, bukan catatan standar amalan dalam lembaran kertas. Anggaplah itu sebagai pemantik yang menjebak pada rutinitas langkah amal kita. Dari kebiasaan itulah akan timbul kesadaran untuk menyempurnakan derap amal kita.

          Namun, ada hal yang perlu digarisbawahi dalam liqo’ harus kita sadari bahwa sang murobi juga manusia. Ia mempunyai keterbatasan ilmu agama dibanding dengan ustad maupun kyai yang sudah mendasar dalam mempelajarinya. Berpijak dari pola pikir tersebut pentinglah untuk kemudian kita teliti ulang, mengkroscek segala informasi yang ia sampaikan. Agar terjamin kebenarannya sehingga kita yakin akan ilmu yang kita peroleh dan mengamalkannya. Sebab, masukan yang kita dapat akan memengaruhi pikiran yang lantas berimbas pada sikap dan tindakan. Dengan demikian, pentinglah tabayyun (kroscek) dari input yang kita serap guna menanggulangi mismatch atau ketidaksesuaian.

           Begitulah sobat, bila kita mampu menyelami lebih dalam lagi dari sistem liqo’ akan banyak maslahat yang kita petik. Semoga dakwah kita dalam menyerukan kebenaran, menggiring kegelapan menuju cahayanya yang terang benderang dimudahkan oleh Nya. Dengan harapan terciptalah tatanan kehidupan yang sesuai dengan Al quran dan sunah. Ya Allah cuatkanlah hidayahMu. Tunjukanlah pada kami yang sedang belajar menjadi hambaMu yang lebih baik ini. Amin.

                                                     

                                                                       Vivit Nur Arista Putra

                                                                       Staf  Humas  Kammi  UNY

 

 
<< Awal < Sebelum 1 2 3 Sesudah > Akhir >>

Hasil 1 - 5 dari 15
" Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya "
 
"Jadilah kamu orang yang mengajar atau belajar atau pendengar (orang mengaji), atau pecinta (mencintai ilmu) dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima (artinya tidak mengajar, tidak belajar, tidak suka mendengarkan pengajian, dan tidak mencintai ilmu), maka kamu akan hancur." (Baihaqi)
 
"Rasulullah SAW: Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembang biakkan olehNya seperti gunung, maka bersedekahlah." (Bukhori dan Muslim)
 

Jajak Pendapat

Website/ blog ini ...
 

Random Article's

Pengunjung Online

Jumlah Pengunjung

Hari ini0
Kemarin0
Pekan ini0
Bulan ini0
Total Pengunjung3738